Kamis, 02 Juni 2011

Cerita Malam Ini

Biarlah mereka menjalani kehidupan dengan caranya sendiri. Kita yang dikaruniai mata sebaiknya hanya melihat tanpa perlu berkomentar dan lebih baik menjauh tanpa perlu mengawasi. Biarkan mereka berkembang dengan kehidupan, cerita dan cintanya. Setiap kehidupan ada tolak ukur tersendiri, begitu juga dengan apa yang mereka lakukan, biarkan di nilai dengan yang sepantasnya untuk menilai (bukan kita, bukan saya dan juga bukan anda), semoga mereka bahagia dan tak ada yang tersakiti, dan kita pun akan bahagia dengan jalan kita masing - masing.

Setiap orang punya daya tarik masing - masing, bukan patokan cantik kemasan bisa menarik secara keseluruhan perhatian seseorang, intinya terletak pada KENYAMANAN. Terkadang ada sesuatu di pada diri anda yang tidak dimilikinya dan tidak menutup kemungkinan juga sebaliknya. Pada dasarnya semua yang berpasangan akan saling melengkapi satu sama lain. Semua sudah ada takarannya! Kekayaan, kecantikkan, kepintaran semuanya bukan patokan kenyamanan seseorang untuk mendekat dan menjauhi kita.

Pendewasaan adalah sebuah proses yang beradaptasi dengan waktu dan keadaan. Semua orang pasti akan mengalami proses itu jika memang dia mau, karena dewasa adalah sebuah PILIHAN. Seperti halnya hidup, baik dan buruk bukanlah sebuah takdir tapi sebuah pilihan. Dan ketika berbicara tentang sebuah pilihan itu akan sulit karena pasti akan ada satu sisi yang dikorbankan untuk mendapatkan sisi yang lain.

Selasa, 03 Mei 2011

This is me!

When haters busy talking, i was busy make it happen.
When they were busy mocking, i was busy walking.
When they were busy laughing, i was busy running.
AND they are STILL wondering why they're left behind....

....And i've just begun....

Rabu, 16 Februari 2011

Kangen

03.40 Am. Pagi ini kembali saya memaknai arti kata "kangen". Sebuah kata sederhana dengan satu arti yang biasa, tetapi bisa membuat saya muter otak bagaimana cara mengatasinya. Faktanya adalah kangen ini tak bertuan......

Jumat, 11 Februari 2011

Valentine "Haram" ( Hermanto Harun )

Agaknya, ruang pemikiran kita tidak pernah berhenti dari gerogotan virus budaya “inpor” yang tanpa disadari telah mewabah dalam perilaku kesaharian kita. Virus tersebut menularkan pelbagai bentuk penyakit sosial yang semakin hari terus kumat, bahkan tularannya menjangkiti ruang pemahaman keberagamaan. Sehingga tak jarang, fatwa ulama terkecoh oleh realitas, yang seakan menganggap bahwa segala sesuatu memiliki niali positif dan negativ. Akhirnya, para ustaz, ulama dan Intelektual Islam, harus mencari argumentasi yang sedikit lunak, agar terkesan familiar dan bersahabat dengan zaman. Kasus ini paling tidak, bisa ditelisik dalam kasus Valentine’s day yang sampai saat ini menjadi icon dan trend baru generasi muda dalam menyalurkan kasih sayang. Valentine’s day menjadi moment yang seakan ‘rugi’ untuk dilewati, dengan warna pink dan makanan coklatnya yang khas, hari ini dianggap sebagai ruang waktu berkasih sayang, terutama kepada sang kekasih.

Seiring “paksaan” media mencekoki opini public dengan tayangan perayaan hari Valentine, budaya ‘impor’ ini seakan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan romantisme kaula muda. Unik dan anehnya, di tengah kesan ‘kontroversial’ MUI yang memfatwakan haramnya perayaan hari Valentine, tulisan Bahrul Ulum, seorang intelektual dan akademisi Islam, dengan Judul “Valentine Yes Valentine No” di harianJambi Ekspres (Kamis 14 Februari 2008), seolah ingin menjawab polemic keharaman perayaan Valentine tersebut. Walau, dalam tulisannya itu, tidak memiliki standar, juga rujukan argumentasi hukum yang jelas antara Valentiene yes atau no. Ketidak jelasan argumentasi hukum tersebut, menurut penulis, akhirnya menjadi jebakan argumentasi relativitas yang akhirnya tidak memiliki “kelamin” hukum yang valid dan tegas.

Ketidak-tegasan sekaligus kegamangan dalam menyikapi Valentine tersebut, setidaknya terlihat dari beberapa urain tulisan Bahrul Ulum (selanjutnya ditulis Bahrul) tersebut, diantaranya: Pertama, bahwa Bahrul terlihat sangat substantif. Ia berusaha memisahkan antara makna Valentine yang menurutnya “sesuai makna dasar” sejarah Valentine itu sendiri. Dalam ungkapan Valentine Yes-nya, Bahrul seakan berusaha memberi alibi, ternyata di dalam Valentine sendiri tersirat makna fositiv seperti memberikan kado, saling berbagi cerita dan pengalaman pribadi atau reuni teman/sahabat lama sesuai dengan makna dasar Valentine. Juga, Bahrul menambahkan “perayaan Valentine yang minimal dapat ditoleril bila dilakukan dengan bertukar kado sebagai tanda perhatian terhadap kawan spesial atau sahabat, dengan kado yang sederhana, dirayakan ditempat terbuka, tidak ditempat tertutup yang memungkinkan dapat berbuat maksiat, memilih tempat yang sederhana, tidak mengganggu orang lain, tidak berpoya-poya, tidak merayakan dengan waktu yang tidak terbatas dan tentu saja berpakaian yang sopan sesuai dengan adat istiadat dan budaya setempat”.

Dalam uraian di atas, terkesan bahwa semua perilaku tadi merupakan suatu perbuatan fositiv, sehingga menjadi legitimasi akan “yes”nya perayaan Valentine. Persoalan kemudian adalah, jika perilaku tadi tidak dalam ruang waktu Valentine, mungkin masih debatable. Akan tetapi, jika dalam ruang perayaan yang masih berembelkan Valentine, maka disitulah letak persoalannya. Karena bagaimanapun, penamaan Valentine sangat kental dengan misi dan nilai agama Kristiani, bahkan termasuk persoalan teologis Kristen. Hal ini dapat dilihat dari asal sejarah lahirnya perayaan Valentine. Kisahnya bermula dari raja Claudius II (268-270 M) yang mempunyai kebijakan melarang bala tentaranya untuk menikah. Karena, bagi Claudius II, dengan tidak menikah, para prajurit akan menjadi agresif dan siaga dalam berperang. Kebijakan ini mendapat perlawanan dari Santo Valentine dan Santo Marius dengan melakukan perkawinan secara diam-diam. Akhirnya, perilaku kedua Santo tersebut diketahui oleh raja Claudius II, kemudian memberi hukuman mati kepada Valentine dan Marius. Akhirnya, kematian kedua “pejuang cinta” tersebut diresmikan oleh Paus Galasius pada 14 Pebruari 469 M sebagai hari Valentine. Jika demikian, maka sangat jelas, bahwa perayaanValentine bagi umat Islam sangat bermasalah, mengingat persoalan teologis merupakan doktrin ajaran suatu agama yang sudah berada dalam ranah “hitam-putih” dan tidak mempunyai ruang untuk dinegosiasikan.

Kedua, dalam ulasan Bahrul, terdapat ungkapan “setidaknya tidak dianggap ketinggalan”. Ungkapan ini sekilas sangat sederhana. Namun, menurut penulis, menyimpan kandungan inferiority yang sangat dahsyat. Sikap inferoiritas ini bahkan telah mewabah ke paradigma pemahaman keberagamaan intelektual Islam. Sehingga, banyak ditemukan para cendekiawan Islam menganggap bahwa Islam menjadi kerikil dari sains dan kemajuan. Agama Islam hanya dijadikan wacana teoritik persoalan moral semata, tidak menjadi public system masyarakat. Jadinya, agama terkurung dalam ruang public reason. Ini artinya, persoalan integritas keberagamaan hanya menjadi patokan moral saja. Fenomena ini bahkan telah mewabah menjadi kelaziman dalam memahami keberagamaan di ruang public, sehingga terkesan bahwa persoalan integritas moral menjadi penting jika itu berkaitan dengan kepentingan individu, namun menjadi subordinate jika berkaitan dengan agama. Inilah buah dari sikap inferior umat yang akhirnya harus mencari interpretasi baru terhadap pemahaman agamanya, walau harus mendobrak ratifikasi dogma agama yang telah mapan. Dengan pelbagai alasan, agama terkadang dikungkung dalam penafsiran keselarasan zaman yang tidak jarang harus “memperkosa” interpretasi subjektifitas “birahi” dengan argumentasi “kebenaran hanyalah milik Tuhan”.

Ketiga, secara tersirat, adanya karancuan dalam menyikapi perayaan Valentine’s day. Apakah ini berada dalam wilayah agama atau hanya persoalan budaya semata. Saudara Bahrul terkesan ambivalen memposisikan “fatwa”nya. Dan kedua posisi itu menjadi samar untuk ditarik ke dalam wilayah agama atu budaya.

Pada satu sisi, mewacanakan Valentine dalam wilayah agama, sehingga nilai normatifitas yang diusungkan sangat berbau bahasa agama. Walau tidak memberi argumentasi yang jelas terhadap landasan “fatwa”nya itu. Ini tercermin dari ungkapan “dirayakan ditempat terbuka, tidak ditempat tertutup yang memungkinkan dapat berbuat maksiat”.pemakaian kata ‘maksiat” jelas sekali kental bahasa agama. Namun, sejauh mana pengelaborasian kata maksiat tersebut disandarkan? Penjelasan maksiat jelas sangat normativ, membutuhkan legitimasi bahasa agama dalam mendefenisikannya. Namun pada sisi lain, wacana Valentinediembelkan dengan budaya. Ungkapan Valentine ditarik ke dalam kancah budaya yang hanya “sekedar sarana penyampaian perhatian, kasih sayang”. Titik krusialnya adalah, jika harus dibungkus dalam bahasa budaya, bukankah budaya Valentine lahir dari produk agama?

Memang, ada ungkapan “alhikmah dhallat lilmukminin, aina wajadaha fahuwa ahaqqu biha”(kebaikan itu banyak telah hilang dari kaum muslimin, maka dimanapun kamu menemuinya, kamu lebih berhak untuk menerimanya). Akan tetapi, dalam kasus Valentine’s day ini, sangat sulit memilah antara nilai yang ada didalamnya dengan formalisasi ritualitasnya. Bahkan faktanya, justru Valentine’s day dan kemaksiatan (dalam kacamata agama), seperti seks bebas, miras, hura-hura dan pacaran menjadi dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian sangat tepat, jika MUI memmfatwakan perayaan Valentine’n day bagi seorang muslim hukumnya Haram. Bukankah ada kaidah hukum telah bertutur “al-ridha bi al-syai’I, ridha bima yatawalladu minhu” (menyukai sesuatu, berarti menerima efek yang dilahirkannya). Semoga Tidak!Waaalhu ‘alam

*Alumni Univ Al-Azhar-Kairo. Dosen Fakultas Syari’ah IAIN STS & Ketua Ikatan Da’I Indonesia(IKADI) Kota Jambi.

Selasa, 18 Januari 2011

Kesenian Tari di Indonesia yang Identik dengan Magis

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Kesenian tari di Indonesia menjadi bagian kebudayaan Indonesia itu sendiri yang bersandingan dengan kesenian lain. Kesenian tari semakin mengukuhkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan seni dan budaya. Dalam beberapa hal, seni dan budaya juga bisa berperan sebagai tanda pengenal dari sebuah negara.

Selalu Diawali Ritual
Kebudayaan di Indonesia tidak pernah lepas dari pengaruh kepercayaan leluhur atau mitos. Misalnya, upacara penyambutan kelahiran bayi, upacara pernikahan, ritual saat wanita hamil, bahkan hingga kematian. Semua adat dan kebudayaan itu tidak pernah lepas dari kata-kata ritual. Begitupun, dengan kebudayaan yang sifatnya hiburan. Seni tari di Indonesia juga bernasib sama. Ketika sebuah kesenian tari akan dipertunjukkan, para penari atau orang-orang yang terlibat dalampertunjukan, baik langsung maupun tidak langsung, biasanya akan melakukan berbagai ritual terlebih dahulu. Ritualnya pun berbeda-beda untuk setiap tariannya, bergantung pada nilai historis tarian tersebut. Di antara sekian banyak jenis tarian tradisional Indonesia yang bernuansa magis, dua di antaranya adalah tarian kuda lumping dari daerah Jawa dan tari kecak dari daerah Bali. Keduanya seolah bisa menggambarkan bahwa betapa pengaruh magis tidak pernah hilang dari kebudayaan Indonesia.

1. Kesenian Tari Kuda Lumping
Tarian ini berasal dari daerah Jawa. Masyarakat Jawa menyebutnya dengan jaran kepang atau jathilan. Disebut jaran kepang karena jarandalam bahasa Jawa artinya 'kuda', sedangkan kepang artinya 'anyaman'. Sesuai namanya, tarian tradisional ini menggunakan anyaman bambu berbentuk kuda sebagai peralatan “tempur” yang utama. Tarian ini memiliki nilai histroris yang cukup masuk akal. Beberapa ahli tari menyebutkan bahwa tarian kuda lumping adalah bentuk penghargaan masyarakat kepada para pasukan berkuda yang hidup di zaman Pangeran Diponegoro. Tarian kuda lumping juga seolah menggambarkan sifat-sifat heroik para pasukan berkuda tersebut.Gerakan yang identik dengan tarian kuda lumping adalah gerakan-gerakan lincah layaknya seorang pasukan berkuda yang tengah berperang.
Di tengah-tengah pertunjukan, para penari biasanya memperlihatkanatraksi yang cukup berbahaya. Mereka memakan beling, berjalan di atas pecahan kaca, menyayat bagian tubuh mereka menggunakan benda-benda tajam dan membakar diri. Atraksi tersebut konon bertujuan untuk menciptakan kesan hebat para pasukan berkuda dari sisi lain, yaitu kehebatan ilmu supranatural yang sudah mendarah daging bagi masyarakat kerajaan. Atraksi berbahaya itu juga tidak dilakukan secara sembarangan. Para penari biasanya telah mendapatkan “bekal” terlebih dahulu. Jika tidak, tentu saja ia akan kesakitan layaknya manusia.

2. Tarian Kecak
Tarian tradisional ini merupakan tarian khas Bali, asli Indonesia. Keindahan tarian ini, bahkan, pernah beberapa kali dijadikan settingpembuatan film, baik luar negeri maupun dalam negeri. Salah satunya adalah film The Fall karya sutradara Tarsem Singh. Meskipun sepintas lalu, tari kecak dalam film The Fall ini dirasa cukup untuk mengenalkan tarian Indonesia pada masyarakat dunia. Tarian ini mempunyai nilai historis yang sangat erat kaitannya dengancerita Ramayana. Barisan penari yang melingkar dalam tarian kecak, konon, diilhami dari barisan para kera yang membantu Rama ketika melawan Rahwana. Gerakan pada tarian ini cendeung statis. Para penari hanya duduk bersila sembari mengangkat kedua tangan dengan terus menyerukan kata “cak” berulang kali. Pakaian yang digunakan pun terbilang sederhana. Para penari mengenakan kain kotak-kotak berwarna hitam putih dan dilengkapi dengan ikat kepala khas lelaki Bali. Namun, kesederhanaan tarian kecak tidak berlaku bagi nilai magis yang terkandung di dalamnya.Bukan hanya merefleksikan perjuangan Rama ketika melawan Rahwana, tarian kecak mengandung nilai magis yang berhubungan dengan budaya Bali, yaitu ritual sanghyang.
Dalam ritual sanghyang, tarian berfungsi sebagai penolak bala ataupun wabah penyakit. Ketika pertunjukan kecak dimulai, konon para penari sudah dalam keadaan tidak sadar. Alam bawah sadar mereka dikuasai oleh roh-roh leluhur. Saat itu, mereka dipercaya tengah melakukan interaksi dengan Tuhan atau roh-roh leluhur dan meminta kebaikan bagi seluruh masyarakat.

---saduran http://www.anneahira.com/kesenian-tari.htm ---